Melihat Perkembangan Arus Mudik Melalui Emisi

Jumlah pemudik pada lebaran 2025 turun dibandingkan dengan lebaran 2024. Hal ini didasarkan pada survei oleh Kementerian Perhubungan yang menyatakan jumlah pemudik tahun ini diperkirakan mencapai 146,48 juta orang, turun sekitar 24% dari 193,6 juta orang pada tahun sebelumnya. Penurunan yang cukup besar ini berpengaruh terhadap mobilitas armada di tujuan mudik yang pada akhirnya bisa menurunkan emisi dari penggunaan kendaraan.

Untuk mengetahui penurunan mobilitas atau jumlah kendaraaan yang melakukan mudik dan beraktifivitas di kampung halaman mudik, diperlukan jumlah data kendaraan. Sependek pengetahun penulis, data jumlah kendaraan mudik yang bisa diakses adalah dari Kementerian Perhubungan, Jasa Marga dan Polri yakni berupa data press rilis atau berita dari kedua lembaga tersebut.

Berdasarkan data PT Jasa Marga (Persero) yang dihimpun dari Pintu Tol Ciawi 1, Cikampek Utama 1, Kalihurip Utama 1 (Jawa Barat), dan Cikupa, antara H-5 sampai H-1, arus mudik 2024 dengan 2025 menunjukkan adanya penurunan selama kurun waktu H-5 sampai H-1. Pada arus mudik 2024 ada 1.045.330 unit kendaraan, sedangkan pada arus mudik 2025 terdapat 1.004.348 kendaraan atau turun sebanyak 40.982 kendaraan (Sumber : kompas.com)

Click the picture for interactive map

Data di atas menginformasikan gambaran umum mengenai jumlah kendaraan yang melintasi gerbang tol. Selain itu, data tersebut di atas tidak menggambarkan gambaran pergerakan atau jumlah moda yang masuk atau bergerak di sebuah wilayah/kota/kabupaten. Data regional per wilayah penting untuk memberikan komparasi secara time series maupun cross section. Komparasi time series antara lebaran 2025 dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Data cross section untuk komparasi antar daerah. Dengan demikian, insight yang didapatkan akan lebih komprehensive.

Di tengah keterbatasan data tersebut, terdapat satu data yang bisa dijadikan proxy untuk mengukur kepadatan/jumlah traffic lalu lintas dalam satu region. Data tersebut adalah data emisi Nitrogen Dioxide (NO2) yang diperoleh dari satelit Sentinel-5P dengan menggunakan google earth engine (GEE). Data NO2 ini dapat digunakan sebagai proxy untuk memantau aktivitas manusia dan kepadatan lalu lintas di suatu wilayah. Hal ini karena konsentrasi NO2 seringkali terkait dengan aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, yang juga merupakan indikator kepadatan lalu lintas.

Dengan menggunakan data NO2, peneliti dapat memperkirakan kepadatan lalu lintas dan pola pergerakan di suatu area tanpa harus mengumpulkan data langsung dari lapangan, yang seringkali memakan waktu dan biaya besar. Penelitian oleh Huang et al (2021), menyebutkan study systematic literature review mereka menggunakan NO2 sebagai proxy polusi kendaraan. Dalam studi ini, peneliti menggunakan meta analisis untuk mengetahui dampak jangka panjang dari NO2 terhadap mortality.

Metode yang digunakan dalam membandingkan emisi NO2 lebaran 2025 dengan lebaran 2024 dan 2023 dalam tulisan ini adalah sebagai beriktut.

Rentang Waktu dan Cakupan

Emisi yang diproses adalah selama H-7 lebaran dan H+3 untuk masing-masing lebaran 2023, 2024 dan 2025. Menggunakan data shape file/peta 514 kabupaten/kota di Indonesia, tulisan ini menyajikan rata-rata emisi pada rentang lebaran 2023, 2024 dan 2025

Lebaran 2023 : 13 April 2023.- 23 April 2023
Lebaran 2024 : 2 April 2024.- 12 April 2024
Lebaran 2025 : 24 Maret 2025.- 3 April 2025

Hasil dari pengolahan data menunjukkan bahwa hampir semua wilayah di Indonesia mengalami penurunan rata-rata emisi NO2 pada rentang lebaran 2025 dibandingkan dengan lebaran 2024. Di sisi lain, pada rentang waktu lebaran 2024, hampir semua wilayah di Indonesia mengalami kenaikan rata-rata emisi NO2 dibandingkan lebaran 2023.

Peta interaktif berikut menginformasikan emisi harian NO2 pada lebaran 2023, lebaran 2024 dan lebaran 2025. Arahkan kursos pada kabupaten/kota uang dituju maka kan keluar popup data emisi untuk masing-masing periode lebaran.

Sebagai gambaran, dalam gambar di samping disebutkan bahwa Mean_NO2_2025 (rata-rata harian NO2 selama rentang waktu pengamatan pada Lebaran 2025) adalah 45.39 µmol/m² (micromoles per meter persegi). Angka ini lebiih rendah dibandingkan periode lebaran 2024 dan lebaran 2023. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa jumlah pergerakan kendaraan di Kebumen pada periode lebaran 2025 lebih rendah dibandingkan Lebaran 2025.

Kampung halamanmu bagaimana ?

Leave a comment