Rusli Abdulah

PhD Student, GSID Nagoya University · Development economics, regional sciences, political economy

Too Crowded to Grow? Menakar Koperasi Desa dari Cahaya Malam

Desa dengan Kospin konsisten menunjukkan aktivitas ekonomi lebih tinggi; KUD baru berasosiasi positif bila berdampingan dengan bank. Tapi ketika semua lembaga keuangan hadir sekaligus, selisihnya justru mengecil — pasar keuangan desa bisa terlalu padat. Paper terbaru kami di International Journal of Social Economics.

Indonesia mengenal dua model koperasi keuangan di desa: Koperasi Unit Desa (KUD), warisan program pemerintah sejak era Orde Baru, dan Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) yang tumbuh lebih organik dari inisiatif warga. Keduanya sama-sama diandalkan sebagai tulang punggung keuangan mikro perdesaan — tetapi mana yang benar-benar berasosiasi dengan ekonomi desa yang lebih hidup?

Pertanyaan ini sulit dijawab karena satu masalah klasik: tidak ada statistik PDB di level desa. Dalam paper terbaru kami di International Journal of Social Economics — ditulis bersama Al Bahits Annef dan Bangkit A. A. Wiryawan — kami menyiasatinya dengan membangun estimasi aktivitas ekonomi desa dari citra satelit cahaya malam (nighttime lights) yang dikalibrasi, lalu memadankannya dengan data kelembagaan keuangan desa dari PODES.

Tiga temuan utama

Pertama, desa yang memiliki Kospin secara konsisten menunjukkan aktivitas ekonomi lebih tinggi dibandingkan desa tanpa Kospin.

Kedua, KUD yang berdiri sendiri tidak berbeda secara statistik dari desa tanpa lembaga keuangan. KUD baru berasosiasi positif dengan ekonomi desa ketika ia berdampingan dengan bank formal — mengindikasikan peran komplementer, bukan substitusi.

Ketiga — dan ini temuan yang memberi judul paper — ketika KUD, Kospin, dan bank hadir sekaligus di satu desa, selisih aktivitas ekonominya justru mengecil. Pasar keuangan desa tampaknya bisa terlalu padat: menambah lembaga ke desa yang ekosistem keuangannya sudah lengkap tidak serta-merta menambah geliat ekonomi.

Catatan metodologis

Temuan ini bersifat asosiasional, bukan kausal. Desain studi ini tidak mengklaim bahwa mendirikan Kospin akan menyebabkan ekonomi desa tumbuh — melainkan memetakan pola hubungan antara konfigurasi kelembagaan keuangan dan tingkat aktivitas ekonomi desa secara nasional. Justru karena itu polanya informatif: ia menunjukkan konfigurasi mana yang layak diteliti lebih dalam dengan desain kausal.

Apa artinya untuk Koperasi Merah Putih

Implikasinya langsung menyentuh program Koperasi Desa Merah Putih yang sedang digulirkan: yang dibutuhkan bukan satu model koperasi yang diseragamkan ke 75.000 desa, melainkan ekosistem yang peka konteks. Desa yang belum punya lembaga keuangan sama sekali adalah kandidat paling masuk akal; desa yang sudah memiliki bank dan Kospin aktif justru berisiko mengalami kepadatan kelembagaan — energi dan modal terpecah tanpa tambahan geliat ekonomi yang berarti.


Annef, A. B., Abdulah, R., & Wiryawan, B. A. A. (2026). Too crowded to grow? Luminosity-based evidence on village cooperative finance in Indonesia. International Journal of Social Economics, 1–17. https://doi.org/10.1108/IJSE-11-2025-1107 (akses berbayar)


Rusli Abdulah
PhD candidate, GSID Nagoya University · Researcher, INDEF. Reads Indonesia’s villages and districts from the ground and from space.

Leave a Reply